JL. Raya Cakung Cilincing, Km. 1 No. 7, Cakung , Jakarta Timur, DKI Jakarta (021) 46823201
Dalam upaya untuk meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), meningkatkan rasio elektrifikasi, serta mempercepat program melistriki desa yang belum berlistrik, pada hari Senin, 30 Mei 2016, PT PLN (Persero) melaksanakan penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) dan kontrak pembelian excess power dengan Pengembang Pembangkit EBT tersebar di Regional Sumatera dengan total kapasitas 115,6 MW dan penandatanganan MOU pengembangan pembangkit EBT sebesar 14,7 MW. Adapun rincian lokasi- lokasi pembangkit EBT dan excess power yang PPA nya di tandatangani tersebut antara lain: • Provinsi Sumatera Utara : Pembangkit Mini Hidro dengan pengembang PT. Bakara Energi Lestari sebesar 10 MW terletak di desa Siunong-Unong Humbang Hasundutan. Selain itu Pembangkit Listrik tenaga Biogass sebesar 1 MW dengan pengembang PT Siringo-ringo terletak di Desa Sidomulyo, Labuhan Batu. • Provinsi Riau : Pembangkit Biomass sebesar 15 MW dengan pengembang PT. Riau Prima Energi berlokasi di Pangkalan Kerinci. Pembangkit berbahan bakar Biogas sebesar 1 MW juga akan dibangun di Pasir oleh pengembang PT. Permata Hijau Sawit. Selain itu ada juga PLTMG (excess power) sebesar 25 MW di Pelalawan dengan pengembang PT. Langgam Power. • Provinsi Sumatera Barat : PLTM 13,4 MW akan dibangun di Desa Pelangai Gadang, Pesisir Selatan oleh pengembang PT. Dempo Sumber Energi. • Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu : PLTMH dengan total daya sebesar 21,2 MW akan dibangun tersebar di Kota Agung Lahat, Banding Agung-OKU Selatan, Muara Kisam-OKU Selatan, Padang Guci Hulu-Seluma, Kepahiang, Rejang Lebong dan Bengkulu Utara yang akan dibangun oleh pengembang PT. Green Lahat, PT. Nusantara Indah Energindo, PT. Midigio, PT. Sahung Brantas Energy, PT. Malaka Guna Energi, PT. Tropisindo Sumber Energi dan PT. Klaai Dendan Lestari. • Provinsi Bangka Belitung : Pembangkit Biomass dan Biogas dengan total daya sebesar 14 MW akan tersebar di desa Cengkong Abang sebesar 2 MW yang dikembangkan oleh PT. Bangka Biogas Sinergy, di Desa Mempaya Bangka sebesar 7 MW dikembangkan oleh Belitung Energy dan di Desa Tempilang Belitung sebesar 5 MW dikembangkan oleh Listrindo Kencana. • Provinsi Lampung : PLTM yang dikembangkan oleh PT. Uway Energy Perdana sebesar 7 MW akan dibangun di Desa Kemu, Kab Way Kanan. Selain itu Pembangkit Biomass juga akan dibangun sebesar 3 MW di desa Gunung Batin Lampung Tengah oleh PT. Gunung Madu Plantations. Excess Power PLTU sebesar 17 MW dari PLTU Pelabuhan Tarahan sebesar 10 MW dan PLTU PT. Budi Starch & Sweetener Tbk sebesar 7 MW juga akan menambah daya di Lampung. Sementara di Pulau Simuleu Aceh akan dikembangkan pembangkit dengan bahan bakar CPO sebesar 5 MW. Perwakilan pengembang yang diwakili oleh Sutjipto, Direktur PT Sahung Brantas Energy menyampaikan bahwa kerjasama ini merupakan kerjasama jangka panjang dan harus dijaga untuk tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Ini menjadi motivasi bagi kami untuk mengembangkan potensi-potensi yang lain untuk memenuhi daerah yang belum berlistrik,” ungkapnya. Sementara itu Direktur Bisnis Regional Sumatera Amir Rosidin menyampaikan bahwa energi ini sangat dibutuhkan untuk melistriki Sumatera. “Saat ini beban di Sumatera sekitar 5.250 MW. Kami berharap dalam 2 tahun sudah berjalan dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat,” tambahnya. Sampai dengan Mei 2016, Pembangkit Listrik Mini Hidro (kapasitas <10 MW) yang sudah beroperasi di wilayah Sumatera sebesar 115 MW yang tersebar di 31 lokasi, sementara 130 MW pada yang tersebar pada 18 lokasi memasuki fase konstruksi. Sementara komposisi energi mix pada sistem kelistrikan Sumatera, Gas 35,7 %, Batubara 32,6 %, PLTA 16 %, Panas Bumi 2,7 % dan BBM 13%. Dengan ditandatanganinya PPA dan kontrak pembelian excess power hari ini, makin menunjukkan komitmen PLN untuk terus mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan dalam upaya meningkatkan rasio elektrifikasi dan melistriki desa yang belum berlistrik sehingga target Rasio Elektrifikasi sebesar 98 % pada tahun 2019 dan target porsi EBT 25 % pada tahun 2025 dapat tercapai.
0

Sebagai wujud brand awareness atas produk Pertamina di dunia Industri Aviasi, Pertamina melalui fungsi Petrochemical Trading turut serta dalam ajang Aviation Maintenance Repair and Overhaul In­do­nesia (AMROI) 2016 yang di­selenggarakan pada 20-21 April 2016 di hotel Grand Mercure Jakarta.  Perhelatan diikuti 11 exhibitor dan le­bih dari 100 peserta dari ber­bagai perusahaan dalam dan luar negeri
Acara diresmikan oleh Men­teri Perindustrian, Mu­hammad Saleh Husein yang memberikan apresiasi terhadap perusahaan-peru­sahaan Maintenance Repair and Overhaul, baik domestik maupun internasional yang telah hadir dan berpartisipasi dalam acara tersebut.
Saleh Husein me­nyam­paikan industri dir­gantara di Indonesia meng­alami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan per­kembangan teknologi saat ini. Ditambah dengan keberhasilan PT Dirgantara Indonesia selaku produsen pesawat dalam negeri dalam mengembangkan pesawat type Turboprop N219 yang laris manis di pasaran.
Pertamina turut ber­partisi­pasi dalam AMROI 2016 sebagai upaya un­tuk memperkenalkan dan memasarkan produk ung­gulan SOLPHY-2 secara luas, baik kepada perusahaan MRO maupun airlines domes­tik dan international.
Kemajuan yang te­lah dicapai dalam industri dir­gantara tentu harus didukung dengan kemampuan unit pen­dukung, yaitu peme­liharaan dan perawatan alat transportasi udara atau yang biasa disebut MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul), baik untuk pesawat  terbang maupun helikopter.
Produk SOLPHY-2 me­ru­pakan produk cleaning solvent hasil kerja sama riset dan pengembangan yang dilakukan bersama PT GMF Aero Asia sebagai perusahaan MRO terbesar di Indonesia yang telah banyak dipercaya menangani berbagai jenis perawatan dan pemeliharaan pesawat terbang, baik dari domestik maupun in­ternasional.
SOLPHY-2 merupakan produk yang memiliki ke­mam­puan cleaning sesuai standar MIL PRF 680 Type I dan telah disertifikasi oleh ba­­dan independen serta approval dari engineering PT GMF Aero Asia sejak 2006. Sampai saat ini sudah digunakan secara luas di lingkup kerja maintenance PT GMF Aero Asia

Sumber : http://www.pertamina.com/news-room/seputar-energi/partisipasi-petrochemical-trading-dalam-aviation-maintenance-repair-and-overhaul-indonesia-2016/

0

Jakarta – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) terus memperluas jaringan pipa gas bumi di Indonesia. Dalam setahun terakhir, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah membangun pipa gas sepanjang 825 kilometer (km). Pipa gas yang dibangun adalah pipa transmisi open access dan pipa distribusi gas bumi. Pada akhir 2014, total panjang pipa gas bumi PGN mencapai 6.161 km. Hingga saat ini, pipa PGN bertambah menjadi 6.986 km. Pipa gas bumi PGN ini merepresentasikan 76% pipa gas bumi nasional. “PGN terus berkomitmen untuk menggenjot pembangunan infrastruktur pipa gas untuk memperluas pemanfaatan produksi gas bumi nasional,” kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, Senin (14/3/2016). Hendi mengungkapkan, beberapa infrastruktur gas bumi yang dibangun sepanjang 2015 adalah perluasan jaringan gas bumi di DKI Jakarta, Bekasi, Cirebon, Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo, Semarang, Medan, Batam dan daerah lainnya sepanjang lebih dari 500 km. Pipa gas tersebut dibangun antara lain untuk mendukung penyaluran gas bumi untuk rumah tangga. “PGN memiliki Program Sayang Ibu, program ini bertujuan memperbanyak rumah menggunakan energi baik gas bumi. Mulai tahun ini hingga 2019 mendatang kami akan menambah 110.000 sambungan gas rumah tangga,” ujar Hendi. Selain itu, PGN juga menyelesaikan pembangunan pipa transmisi gas bumi open access Kalimantan – Jawa (Kalija) I sepanjang lebih dari 200 km. Pipa gas Kalija I ini menghubungkan sumber gas Lapangan Kepodang di Laut Utara Jawa Tengah ke pembangkit listrik PLN Tambak Lorok. Mulai 2016-2019, PGN juga akan menambah jaringan pipa gas baik transmisi maupun distribusinya sepanjang lebih dari 1.650 Km. “PGN juga merencanakan pembangunan infrastruktur gas untuk peningkatan pemanfaatan gas domestik. Penambahan panjang pipa gas yang akan dibangun oleh PGN mulai tahun ini sampai 2019 lebih dari 1.680 km,” ungkapnya. Infrastruktur pipa gas bumi yang dibangun sepanjang lebih dari 1.680 km tersebut di antaranya adalah proyek pipa transmisi open access Duri-Dumai-Medan, pipa transmisi open access Muara Bekasi-Semarang, pipa Distribusi Batam (Nagoya) WNTS-Pemping dan pipa distribusi gas bumi di wilayah eksisting dan daerah baru lainnya. Dengan tambahan pipa gas sepanjang lebih dari 1.680 km tersebut, akan membuat jumlah pipa gas bumi PGN yang saat ini sebanyak 6.986 km, pada 2019 nanti menjadi lebih dari 8.660 km. Jumlah ini akan meningkatkan kemampuan penyaluran gas PGN mencapai 1.902 MMscfd.  

Sumber : http://www.bumn.go.id/gasnegara/berita/454/Setahun.Terakhir,.PGN.Bangun.Pipa.Gas.Bumi.825.Km
0

JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang pengusahaan panas bumi, hari ini telah ditandatangani Perjanjian Pemegang Saham (Shareholders Agreement) dengan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA/BUMD Aceh) untuk pengembangan panas bumi Seulawah.   Shareholder Agreement ditandatangani oleh Direktur Utama PGE Irfan Zainuddin dan Direktur Utama PDPA Muhsin yang disaksikan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Zaini Abdullah di Banda Aceh.   Melalui proses lelang, PT Pertamina (Persero) telah ditunjuk sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Seulawah Agam yang berada di di Propinsi Aceh yang diperkirakan memiliki potensi sampai dengan 165 MW. Pertamina telah menugaskan PGE untuk memenuhi persyaratan lelang dengan mendirikan perusahaan patungan bersama BUMD Aceh dan selanjutnya perusahaan yang dibentuk tersebut akan melakukan eksplorasi dan eksploitasi Panas Bumi berdasarkan Ijin Panas Bumi (IPB) yang akan diterbitkan oleh Pemerintah c.q. Menteri ESDM.   Dengan perjanjian ini, komposisi kepemilihan saham untuk badan usaha patungan antara PGE dan PDPA adalah 75% PGE dan 25% untuk PDPA. Untuk tahap awal direncanakan survey dan eksplorasi untuk menyusun pembangunan PLTP unit I dengan kapasitas sekitar 55MW dengan komitmen investasi untuk tahap eksplorasi sekitar US$40 juta sesuai dengan dokumen penawaran Pertamina dalam lelang WK Seulawah.   “Bagi kami, kerjasama antara PGE dan PDPA tidak sekadar upaya pemenuhan ketentuan pemerintah melainkan juga menjadi komitmen kuat Pertamina untuk maju bersama membangun perekonomian Aceh dengan penyediaan energi yang cukup, dalam hal ini pengembangan potensi panas bumi yang cukup besar di Aceh. Selanjutnya, PGE dan PDPA segera merealisasikan secara konkret proyek panas bumi Seulawah Agam sesuai dengan komitmen investasi kepada pemerintah,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro.   Wilayah kerja panas bumi Seulawah Agam terletak di Kabupaten Aceh Besar, mencakup Kec. Seulimeum, Krueng Raya dan Indrapuri. Lokasi proyek dapat berjarak sekitar 50 km ke arah tenggara dari kota Banda Aceh.   Sumber : http://www.pertamina.com/news-room/siaran-pers/pertamina-geothermal-energy-gandeng-bumd-aceh-kembangkan-panas-bumi-seulawah-agam/
0

Semangat PLN dalam berinovasi membuahkan hasil. Mengusung Aplikasi INFO PLN dalam perlombaan Sistem Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) 2016, PLN melaju ke 99 besar. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Yuddy Chrisnandi kepada Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN Agung Murdifi pada acara Simposium dan Gelar Inovasi Pelayanan Publik Nasional Tahun 2016, Kamis (31/3).
“Saya sangat bangga dengan teman-teman PLN yang tak pernah lelah menciptakan inovasi baru untuk meningkatkan pelayanan pelanggan di luar kewajiban rutin mereka. Ini sangat berarti bagi perusahaan. Semoga PLN dapat melaju ke tahap selanjutnya dan semoga penghargaan seperti ini tetap menjadi cambuk bagi kami, memotivasi kami, untuk semakin meningkatkan kualitas pelayanan,” ujar Agung.
Inovasi berjudul “Aplikasi Info PLN Berbasis Sistem Operasi Perangkat Bergerak Android dan iOS, Akses Informasi dan Pelayanan Pelanggan Kelistrikan PT PLN (Persero) Secara Gratis Menggunakan Ponsel Pintar untuk Masyarakat di Seluruh Indonesia” ini digarap oleh Eki Sairoma Situmeang, Kustan Setiawan, Joe Lesmana, Taurisa Wijaya dan Henri Firdaus. Layanan baru berupa aplikasi ponsel pintar ini dikembangkan sejak 2012 dan diluncurkan pertama kali pada PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang.
Aplikasi INFO PLN berisi informasi seputar kelistrikan, seperti cek tagihan listrik, riwayat pembelian token Listrik Pintar (Prabayar), Layanan Menu Online untuk Pasang Baru, Ubah Daya, Layanan Listrik Sementara, Fitur Pengaduan Pelanggan seluruh Indonesia, Peta Kondisi Listrik saat ini, serta beberapa fitur media sosial dan tren berita.
Pelanggan juga dapat mengakses informasi mengenai Status Permohonan, Entry Kode Konfirmasi, Layanan Informasi Rekening via Email, serta Historikal Rekening, Informasi Pembelian Token Pra Bayar, dan Historikal Transaksi Pembelian. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, INFO PLN juga dilengkapi dengan menu Survey Kepuasan Pelanggan.
Hingga saat ini, Aplikasi INFO PLN telah diunduh sebanyak 152.345 user. Pelanggan tersebut bukan hanya dari seluruh Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Misalnya, beberapa tenaga kerja Indonesia yang berada di luar negeri ada yang mendownload aplikasi ini untuk mengetahui perkembangan listrik di daerah asalnya. Melihat respon yang baik dari pelanggan, para inovator INFO PLN optimis dapat memenangkan perlombaan SINOVIK 2016.
“Kami bersyukur Aplikasi INFO PLN bisa masuk 99 besar. Untuk tahap selanjutnya kami optimis bisa menembus 35 besar. Kalaupun masuk ke 10 besar, aplikasi kami sudah siap karena sudah diupdate lagi sesuai permintaan pelanggan. Pada awal April nanti aplikasi INFO PLN akan berganti nama menjadi PLN 123 dan diresmikan sebagai aplikasi resmi korporat. Tentunya dengan fitur yang semakin lengkap, seperti menu Call Center,” ungkap Eki.
Bersama 98 peserta lainnya, aplikasi INFO PLN dan aplikasi PLN 123 dipamerkan dalam Pameran Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Nasional 2016. Acara yang digelar di JX International (Jatim Expo), Surabaya ini yang berlangsung mulai 31 Maret sampai 2 April 2016. Para pengunjung sangat antusias dengan aplikasi baru ini. Mereka banyak memberi masukkan, antara lain untuk penambahan fitur pembelian token dan notifikasi sisa pulsa di token Pra Bayar.
Menjadi satu dari Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Nasional 2016 merupakan kebanggaan tersendiri bagi PLN yang memang mendorong para pegawainya untuk terus berinovasi. Komitmen ini diwujudkan dengan menggelar acara-acara internal tahunan, seperti KNIFE (Knowledge, Norm, Innovation, Festival and Exhibition) dan lomba karya inovasi. Karena dengan inovasi, PLN berharap dapat memberikan kualitas pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Sumber : http://www.pln.co.id/blog/aplikasi-info-pln-masuk-top-99-inovasi-pelayanan-publik-nasional-2016/

0

Pemerintah dan PT PLN (Persero) serius sukseskan pembangunan listrik 35.000 mega watt (MW), hal ini terlihat dari konsistensi yang ditunjukkan semua pihak yang terlibat untuk menyelesaikan kendala yang ada. Bertempat di Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, dalam acara bertajuk pertemuan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) dan Pengembang listrik swasta. Menteri ESDM Sudirman Said, mengajak kepada seluruh perusahaan pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) untuk melihat program pembangunan listrik 35.000 MW bukan sekedar project semata, namun sebuah movement atau gerakan untuk menerangi seluruh Indonesia. “Angka 35.000 MW itu bukan angka yang tiba-tiba muncul, tapi angka yang dihitung dengan cermat didasari dengan asumsi-asumsi pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, jadi 35.000 MW bukan sekedar target tapi kebutuhan” tegas Menteri ESDM. Senafas dengan hal tersebut, PLN juga mengamini pernyataan dari Menteri ESDM, PLN terbuka untuk seluruh masukan yang membangun demi percepatan penyelesaian Program 35.000 MW. “Pertemuan ini membuka kesempatan untuk sharing antara PLN dan IPP untuk melihat kendala di lapangan, hal ini juga perlu guna memastikan target financial closing dan penyelesaian proyek sesuai tepat waktu” ujar Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan. Dalam kesempatan tersebut dihadiri jajaran direksi PLN yakni Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan, Direktur Perencanaan Korporat Nicke Widyawati, Direktur Keuangan Sarwono Sudarto, Direktur Bisnis Regional Sumatera Amir Rosidin, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat dan Lampung Murtaqi Syamsudin, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur dan Bali Amin Subekti, Direktur Bisnis Regional Kalimantan Djoko R Abu Manan, Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara Machnizon dan Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua Haryanto W.S. Turut hadir pula komisaris utama PLN Kuntoro Mangkusubroto, Ketua UP3KN Nur Pamudji, Dirjen EBTKE Rida Mulyana, Dirjen Kelistrikan Jarman dan Dirjen Minerba serta Pertemuan ini mendapatkan apresisasi dari semua pihak yang hadir ” kami sangat mengapresiasi atas inisiatif ini yang secara berkala dilakukan oleh Pemerintah, kesempatan ini menjadi sangat penting karena bisa menjadi Check point apakah kebijakan yang telah ditetapkan berjalan dengan baik atau tidak, disisi lain pelaku usaha dapat secara langsung menyampaikan kendala di lapangan” ungkap M Riza Husni Ketia Umum Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air. Sejumlah pengembang juga secara lugas menyampaikan keluhan dan permasalahan dalam suasana diskusi yang mendorong lahirnya solusi-solusi konkrit, beberapa diantaranya secara terbuka menyampaikan kendala terkait proses bisnis, misalnya tentang harga batubara, mengingat ketentuan yang ada dibuat ketika harga batubara tidak seperti saat ini. Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan menanggapi dengan antusias pertemuan tersebut, dan berencana akan membuat pertemuan susulan guna membahas kendala teknis lapangan sekaligus sharing untuk mencari jalan keluar yang terbaik demi sukses program 35.000 MW. Pada kesempatan yang sama, ditandatangani pula kesepakatan percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 35.000 MW antara PLN dengan para IPP, yang berisi para pihak sepakat untuk menuntaskan seluruh persyaratan ( tekhnis, legal dan Finansial) untuk memastikan target financial closing dan penyelesaian proyek sesuai tepat waktu. Pertemuan ini merupakan pertemuan ketiga antara Menteri ESDM dan seluruh pengembang listrik swasta, Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menargetkan kontrak dan PPA ( Gabungan antara PLN dan IPP) dengan total nilai kapasitas 19.287 MW demi tercapainya target 35.000 MW pengembangan listrik di tahun 2019. Selain itu, dukungan Pemerintah dalam Program pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan ini juga ditunjukkan dengan diterbitkannya peraturan Presiden (Perpres) no 4 tahun 2016 tentang percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo tanggal 8 Januari 2016. Melalui Perpres tersebut PLN dan IPP mendapatkan dukungan berupa penjaminan, percepatan perizinan dan non perizinan, penyediaan energi primer, tata ruang, dan penyediaan tanah. Dengan adanya dukungan tersebut diharapkan target rasio elektrifikasi 97% dapat dicapai pada tahun 2019.   Sumber : http://www.pln.co.id/blog/bersama-sukseskan-program-35-000-mw/
0

Program 35.000 MW sebagai fokus PLN untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan rasio elektrifikasi tidak hanya bergerak pada proyek pembangunan pembangkit, namun juga pada transmisi dan Gardu Induk (GI). Sesuai dengan komitmen tersebut, PLN saat ini berada dalam jalur percepatan untuk realisasi program 35.000 MW. Adapun rencana yang telah disusun oleh PLN dalam kurun waktu 5 tahun (2014-2019), yakni akan membangun 732 proyek transmisi dan 1.375 GI. Dalam proyek transmisi, kapasitas terpasang sepanjang 43.284 kms (93%) dibangun oleh PLN dan 3.313 kms (7%) dibangun oleh swasta atau Independent Power Plant (IPP). Sementara itu, proyek GI yang dibangun oleh PLN dan IPP masing-masing sebesar 103.839 MVA (95%) dan 4.950 MVA (5%). “Sebagian besar pembangkit listrik, transmisi dan GI yang merupakan bagian dari program 35.000 MW ditargetkan beroperasi di tahun 2019,” ujar Manajer Senior Public Relations PLN Agung Murdifi. Adapun capaian proyek pembangunan transmisi dengan total jalur sepanjang 46.597 kilometer-sirkit (kms) dalam program 35.000 MW ini adalah sepanjang 31.147 kms masih dalam tahap perencanaan dan pengadaan; 13.081 kms dalam tahap konstruksi; dan 2.368 kms telah energize dan mendapatkan rekomendasi laik bertegangan (beroperasi). Berikut adalah rincian pencapaian proyek pembangunan transmisi (kms):
Regional Target Realisasi Capaian
Sumatera 19.305 504 3%
Jawa & Bali 11.185 370 3%
Kalimantan 7.883 826 10%
Sulawesi & Nusa Tenggara 7.207 506 7%
Maluku & Papua 1.017 162 16%
Total 46.597 2.368 39%
Selain pada sisi pembangkit dan transimisi, program 35.000 MW juga memiliki kemajuan dalam pembangunan pada sisi distribusi atau dalam hal ini pembangunan GI. Realisasi kapasitas terpasang proyek GI hingga April 2016 dari total 108.789 Mega Volt Ampere (MVA) adalah sebesar 7.295 MVA telah selesai konstruksinya dan dapat beroperasi dengan rincian sebanyak 76 lokasi berkapasitas 5.615 MVA (75%) dari target RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan) 2015 sebesar 7.480 MVA dan hingga kuartal I 2016 sebanyak 36 lokasi berkapasitas 1.680 MVA (23%) dari total target RKAP 2016 sebesar 7.440 MVA. Sementara itu, GI dengan kapasitas terpasang 90.780 MVA masih dalam tahap perencanaan dan pengadaan; serta sebesar 10.714 MVA masih dalam tahap konstruksi. Berikut adalah rincian pencapaian proyek pembangunan GI (MVA):
Regional Target Realisasi Capaian
Sumatera 32.406 1.690 5%
Jawa & Bali 66.083 4.615 7%
Kalimantan 3.910 650 17%
Sulawesi & Nusa Tenggara 5.260 320 6%
Maluku & Papua 770 20 3%
Total 108.429 7.295 38%
“Dibalik target dan capaian yang dialami program 35.000 MW, PLN juga mengalami kendala dan tantangan dalam pembangunan transmisi dan GI. Namun, beberapa transmisi dan GI yang sempat mangkrak telah berhasil dibangun dan energize pada akhir tahun 2015 dan triwulan I 2016 dengan capaian hingga saat ini untuk masing-masing transmisi dan GI adalah 39% dan 38%,” jelas Agung. Contoh pembangunan yang mangkrak adalah proyek transmisi dari Muara Teweh ke Buntok dan Buntok ke Tanjung yang masuk sistem Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) sempat terhambat akibat terkendala pembebasan lahan dan kompensasi tanam tumbuh. Selain Muara Teweh, PLN juga sempat mengalami kesulitan menyelesaikan pembangunan GI Kota Agung, Lampung, karena terhambat pembebasan lahan dan ruang bebas (Right of Ways/ROW). Namun, hal tersebut berhasil diatasi berkat dukungan penuh dari Pemerintah setempat sehingga pembangunan GI terselesaikan dan dapat memperbaiki kualitas pasokan listrik setempat. “Seluruh proses pembangunan mulai dari pembangkit, transmisi dan GI semoga dapat terealisasi sesuai target dengan adanya dukungan Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan, demi memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara,” tutup Agung.   Sumber : http://www.pln.co.id/blog/program-35-000-mw-pln-telah-bangun-2-368-kms-transmisi-dan-7-295-mva-gardu-induk/
0